Hidup Enak Tanpa Makan

Saya pikir, semua pasti suka, berupacara dan beropini terkait beryadnya adalah kegiatan mulia. Namun apa yang hendak dikatakan jika hendak mengulang kegiatan upacarabatau yadnya tersebut? Terlebih apa yang hendak dikatakan ketika hendak mengulang ke 10 kali atau bahkan ke 1000 kalinya?
Jika waktu hanya dialokasikan berupacara, kapan waktunya menyiapkan kebutuhan upacaranya? Terlebih lagi jika kegiatan penyiapan kebutuhan upacarabtidak pernah diniatkan dilakukan walaupun waktunya tersedia. Karena menyiapkan kebutuhan upacara adalah sisi ketidaknyamanan terjadi, sementara berupacara adalah sisi kenyamanan dan kesenangan. Membelanjakan harta dan uang. Tanpa dididik serius, orang pasti bisa.
Seperti halnya hidup, jika tidak makan, hidup akan berakhir jauh lebih cepat dari semestinya. Demikian juga kegiatan beryadnya atau berupacara akan berakhir dengan ceoat ketika tidak ada kegiatan yang bisa menghasilkan kebutuhan berupacara baik langsung maupun tidak.
Ini sudah mulai tampak di Bali dimana sudah banyak tanah dijual sebagai dampak tidak memiliki dana untuk mendatangkan kebutuhan upacara dan belanja lainnya. Dan, yang tidak diinginkan terjadi, kreativitas untuk mengalihkan penyediaan kebutuhan berupacara ke orang atau pihak lain.
Namun, seberapa kreativitas itu dapat dilakukan? karena kreativitas tersebut terbentur hukum positif di NKRI?
SB
<