Putu Swastawa

Ketaatan Beragama Berujung Kemiskinan
Saya pernah memiliki karyawan yang sangat taat beragama.
Pertama, saya ceritakan yang Hindu.
Di Bali, upacara agama /adat silih berganti, terkadang harinya bisa beruntun. Sempat tiba hari suci dan kegiatan adat beruntun, dan ini menjadikan karyawan harus pulang kampung. Dampaknya: warung tutup sangat lama. Ketika warung buka lagi, suasananya persis ketika memulai berjualan, seperti tidak punya pelanggan, sepi kembali.
Kedua, saya ceritakan yang muslim.
Muslim memiliki kewajiban sholat 5 kali sehari. Outlet saya adalah di sebuah mall dimana jam ramai dan jam sholat bersinggungan. Karena jam sholat, pembeli yang antre di depan outlet ditinggal sholat oleh karyawan. Dia sekaligus ambil jam istirahat sehingga total waktu habis sebanyak 1 jam.
Ketika dia balik ke outlet, suasana sudah sepi. Orang sudah selesai makan dan minum. Jam makan sudah berlalu. Dampaknya, penjualan selalu rendah dan merugi namun, demi kemanusiaan, gaji tetap diberikan dengan besaran yang layak.
SB
Pertama, saya ceritakan yang Hindu.
Di Bali, upacara agama /adat silih berganti, terkadang harinya bisa beruntun. Sempat tiba hari suci dan kegiatan adat beruntun, dan ini menjadikan karyawan harus pulang kampung. Dampaknya: warung tutup sangat lama. Ketika warung buka lagi, suasananya persis ketika memulai berjualan, seperti tidak punya pelanggan, sepi kembali.
Kedua, saya ceritakan yang muslim.
Muslim memiliki kewajiban sholat 5 kali sehari. Outlet saya adalah di sebuah mall dimana jam ramai dan jam sholat bersinggungan. Karena jam sholat, pembeli yang antre di depan outlet ditinggal sholat oleh karyawan. Dia sekaligus ambil jam istirahat sehingga total waktu habis sebanyak 1 jam.
Ketika dia balik ke outlet, suasana sudah sepi. Orang sudah selesai makan dan minum. Jam makan sudah berlalu. Dampaknya, penjualan selalu rendah dan merugi namun, demi kemanusiaan, gaji tetap diberikan dengan besaran yang layak.
SB